MAGHILEWA: Wajah Leluhur yang Damai, Ada Rindu di Sana
Oleh: Romilus Juji*
Rindu
selalu punya kekuatan untuk menarik kembali, kembali pulang. Salah satu
kerinduan paling purba adalah rindu akan kampung halaman. Sebagai peninggalan
leluhur, tempat berpijak, dan bertumbuh-berkembangnya peradaban manusia,
kampung selalu dirindukan.
Peradaban manusia dapat
diukur dan diteliti lewat bermacam-macam indikator. Di Kabupaten Ngada, Flores,
Nusa Tenggara Timur, salah satu cara untuk mengetahui peradaban manusianya
ialah dengan melihat aktivitas masyarakat asli di kampung-kampung tradisional.
Umumnya, kampung tradisional tersebar merata di seluruh pelosok Ngada. Seiring
berjalannya waktu, cara melihat kampung tradisional terus berubah. Kendati
demikian, kampung tradisional tetaplah kampung tradisional. Tugas kita,
menjaganya!
Nah, Bro & Sis, ada
loh
sebuah kampung tradisional yang akan buat kalian penasaran dan rindu pake
bingits, seperti rindu Dilan kepada Milea. Nama kampung itu, MAGHILEWA. MAGHILEWA
merupakan salah satu kampung yang tetap dijaga keasliannya. Kearifan lokal,
pernak-pernik budaya, tata ruang, dan arsitektur rumah adatnya tetap dirawat
dan dilestarikan.
Bro & Sis akan dibuat tercengang oleh tampilan 17 buah sa’o (rumah adat) yang artistik juga oleh suasana alam yang kental. Dari ketinggian maupun dari gerbang kampung, susunan sa’o yang saling berhadapan dengan view loka nua (hamparan kampung) yang membentuk lingkaran elips sungguh sangat mencuri perhatian.
“Mai, mai, meda dia teda
………”, suara seorang warga MAGHILEWA menyapa, mengajak kami
untuk duduk di pendopo rumah adatnya. Penuh keakraban, tangannya mempersilakan
kami untuk duduk.
“Om Dami, dia sa’o sei
le?”, saya melanjutkan percakapan, menanyakan rumah adat
siapa yang kini kami duduki.
Teman-teman yang lain
mulai melempar pertanyaan. Vivi dan Ruben kelihatan penasaran dan ingin tahu
lebih banyak. Seli terus memotret. Angle terbaik sedang dia pilih agar
menghasilkan foto yang menarik.
Om Dami terus berkisah. Sa’o
yang kami duduki bernama Sa’o Weti Wali. Tiap sa’o memiliki ngadhu
(simbol leluhur laki-laki) dan bhaga (simbol leluhur perempuan). Om
Dami menunjuk persis ke arah ngadhu dan bhaga tersebut.
Di MAGHILEWA, setiap ngadhu
dan bhaga memiliki nama, sekaligus mewakili masing-masing woe (suku).
Tak lama setelah berbagi
cerita yang amat singkat itu, kami melanjutkan aktivitas sesuai tujuan
kedatangan kami.
MAGHILEWA terletak di
lereng selatan Gunung Inerie, Kecamatan Inerie, Kabupaten Ngada, berhadapan
dengan bentangan Laut Sawu yang jernih dan memukau. Untuk bisa tiba di
MAGHILEWA, beberapa rute dapat dipilih. Bagi yang ingin melakukan perjalanan
darat, rute Bajawa – Aimere – Inerie atau Bajawa – Langa – Jerebu’u – Inerie
atau Maumbawa – Boba – Inerie dapat dipilih. Kupang – Aimere atau Sumba –
Aimere dapat juga dipilih bagi yang menyukai perjalanan laut. Sedangkan
perjalanan udara, Bandara So’a – Bajawa – Inerie merupakan opsi yang tepat.
Dari Bajawa dengan menggunakan mobil atau motor, waktu tempuh mencapai kurang-lebih
2 jam, ke MAGHILEWA. Khusus bagi penyuka alam dan pencinta jalan kaki, rute
Langa – Watu – Maghilewa menawarkan pesona yang amat menggoda.
Sebagai tempat untuk berlibur dan bermalam, MAGHILEWA sangat dianjurkan. Dalam segala kesederhanaan dan keasliannya, MAGHILEWA sangatlah memikat. Keramahan warga setempat akan membuat betah setiap pengunjung. Masing-masing sa’o dapat dipilih untuk menginap, membangun relasi, dan memperluas kekeluargaan.
Oh yah, Bro & Sis. Jaringan internet belum sampai ke MAGHILEWA. Damai, sunyi, asri, itulah MAGHILEWA,
kampung tradisional yang benar-benar menggambarkan wajah leluhur, yang
betul-betul membuat rindu.
Datanglah, Anda tidak
akan kecewa!
***
*Romilus Juji: salah satu peserta Pelatihan Tata Kelola, Bisnis, dan Pemasaran
Destinasi Pariwisata yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Kabuaten
Ngada, 14-16 September 2021. MAGHILEWA merupakan kampung yang dipilih
sebagai lokasi praktik lapangan.





Mantap
BalasHapusLuar biasa abang
BalasHapusMaghilewa asli bikin betah di sana..
BalasHapus